Assalamualaikum guys, gila udah lama ternyata gue gak posting gara-gara padatnya agenda kenegaraan #cielah. Gak sadar ternyata tahun 2015 ini udah sampe bulan april ya, dan gak sadar juga kalo gue udah semakin tua sekarang. Iya TUA. Kenapa gue bilang TUA lalu gue GAK SADAR? Karena gue ngerasa baru beberapa hari lalu gue main tamiya bareng sama temen gue sambil ngadu beyblade bahkan sampe ngadu tamiya lawan beyblade. Yap, gue adalah salah satu generasi 90an yang ngerasa kangen sama masa-masa kecil gue dimana masalah cuma sebatas digembok gak dibolehin main keluar sama bokap nyokap gara-gara nilai ulangan bahasa sunda gue dapet 4! haha udah ah basa basinya gue sekarang mau ngebahas perbandingan jaman dulu vs sekarang versi gue en cekidot beybeh !

Bola Plastik vs Futsal

Karena gue anak laki-laki normal makanya gue main bola waktu kecil. Karena anak laki-laki yang gak normal biasanya main bola. Iya bola bekel. Tapi gue suka banget sama yang namanya main bola sepak bareng temen-temen gue waktu kecil. Kita gapunya jadwal yang terorganisir emang, tapi setiap ba'da ashar gue selalu ngerasa kalo gue bakal jadi David Beckham di lapangan komplek. Cukup bola plastik dan kaki telanjang gue bisa ngerasain sensasi main di stadion sekelas Old Trafford. Gawangnya? Cukup sendal sebagai pengganti tiang gawang :)
Menjelang gue SMA kayaknya budaya gue waktu kecil itu udah mulai luntur dan tergantikan sama lapangan berjaring dan bola futsal. Peralatan pun jadi makin lengkap dari yang make sepatu futsal, jersey bola terbaru sampe rante kapal buat jaga-jaga kalo pertandingan futsal berujung rusuh. Selain itu mindset anak-anak sekarang kayaknya kalo ngeliat bola bawaannya pengen main di lapangan futsal, padahal guys lapangan komplek kalian gak kalah kok asiknya. Dan yang terakhir, kalo lo main futsal lo harus bayar sementara kalo di lapangan komplek lo gaperlu bayar, palingan ganti kaca tetangga lo yang pecah gara-gara Tendangan Macan ala Kojiro Hyuga :p

Minggu Pagi

"Anjing! Udah jam 9 pagi! Telat nonton Let's Go gue!" Ini nih kalimat yang gue keluarin kalo telat bangun pagi pas hari minggu. Entah kenapa gue selalu berusaha buat tidur cepet di sabtu malem dan bangun sepagi mungkin pas hari minggunya supaya bisa nonton kartun kesukaan gue sampe azan Zuhur berkumandang. Gila gue bahagia banget waktu gue kecil minggu pagi gue disuguhin kartun-kartun yang seru abis, mulai dari Let's Go, Crush Gear, Beyblade, Doraemon, Ninja Hatori sampe YugiOh ! Dan sekarang? Ya buat gue minggu pagi udah gak ada yang spesial selain ikut CFD nyari jajanan sama cabe-cabean yang make running shoes tapi gak keluar keringet. TV udah gak nyiarin kartun sampe siang lagi dan ironisnya penggantinya gue disuguhin sama acara "Musik" yang isinya lawakan-lawakan kurang bermutu dan presenternya pamer paha sama dada kayak ayam goreng super nikmat KFC. Yasudahlah...zaman sudah berubah seenggaknya gue pernah kenal sama Retsu, Go dan Tokichi :)

Diobok-obok sampe Pucing Pala Barbie

"Diobok obok airnya diobok-obok banyak ikannya kecil-kecil pada mabok" Kenal sama lirik lagu barusan? Well, kalo lo gak ngerasa asing berarti kita seumuran. Buat yang gak kenal sama lirik lagu barusan biar gue deskripsiin sedikit deh ya. Lagu barusan judulnya diobok-obok, yang nyanyiin Joshue Suherman, artis cilik yang sekarang udah jadi artis dewasa (bukan artis film dewasa ya adik-adik). Gaktau kenapa gue seneng banget sama lagu itu waktu kecil dulu, liriknya bahkan gak menjurus sama sekali ke percintaan kayak lagu-lagu jaman sekarang.
Dijaman sekarang kayaknya lagu semacam itu udah mulai punah dengan perlahan seiring dengan berkurangnya populasi komodo di Jakarta. Yang terbaru gue bahkan baru denger kalo ada anak kecil yang hapal lirik dari salah satu lagu dangdut yang dinyanyikan oleh penyanyi dengan inisial Keluarga Bahar. Yap! Pucing Pala Barbie. Gue gakmau komentar banyak deh ya kalo lagu ini, nanti takut didribel sama keluarganya. Kan kasian nanti kepala gue pusing :(
Manusia hidup dari sejak ia bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga menjadi tua. Orang tua adalah sosok orang yang melahirkan kita. Secara harfiah orang tua berarti orang yang sudah tua atau lebih tua dari kita dan jika sudah tua berarti seharusnya orang tersebut sudah mengalami proses pendewasaan dan menjadi seorang yang dewasa.

Namun sayang, orang tua tidak selamanya sudah dewasa. Kenapa gue bisa bilang begini? Okey, biar gue berikan contoh kasusnya. Banyak kasus dimana orang tua (khususnya ayah) tidak bekerja dan menelantarkan keluarganya. Menurut gue sifat tersebut bukan sifat orang dewasa yang selama ini gue kenal penuh dengan tanggung jawab. Dan ini yang terjadi di kehidupan gue sendiri.
Semenjak masih kecil sampai gue seperti ini, gue selalu melihat kalau sosok ayah disebuah film pasti merupakan sosok ksatria yang penuh dengan tanggung jawab dan berusaha melindungi keluarganya atau bahkan berusaha membahagiakan keluarganya. Sayang itu cuma ada di film. Di kehidupan nyata gue? Nol besar. Gue terlahir dari sosok ayah yang keras, egois dan cenderung tidak berperasaan. Sarkas? Ya memang. Tapi memang demikian adanya. Sebagai contoh, jika kita melihat di film-film sosok ayah sering mengantarkan anaknya pergi ke sekolah maka hal tersebut hanya mimpi di kehidupan gue. Sejak gue TK sampai gue kuliah mungkin hanya hitungan jari tangan saja bokap (ayah) nganterin gue ke sekolah. Sejak kecil gue udah dititipin ke jemputan, disaat SMA gue mulai naik motor sendiri dan kuliah gue bahkan harus naik kereta/pesawat sendiri buat pulang pergi Jakarta-Malang setiap beberapa bulan sekali. Jadi dimanakah peran ayah di kehidupan gue? Mencari nafkah? Nyokap (ibu) gue bahkan juga mencari nafkah dan tetap berusaha mengurus keluarga.

Okey cukup menyindir orang tua gue sendiri. Di keluarga gue bahkan ada sosok ayah yang tidak bekerja dengan dalih mengurus ibunya yang tinggal sendiri dan berusaha terlihat bersahaja dengan mengorbankan seluruh waktunya untuk sang ibu. Salah? Tidak, tidak sepenuhnya salah. Tapi tahukah kalian apa yang ada dihati kecil orang tersebut? Orang tersebut bahkan tidak ikhlas melakukan hal tersebut dan ingin bekerja untuk kepuasan duniawinya sendiri. Kabar terakhir yang gue denger orang tersebut bahkan memaki ibunya yang sudah lama dirawatnya.


Jadi apakah orang-orang tersebut bisa dikatakan orang tua yang dewasa dan bertanggung jawab? Ataukah hanya tua bangsat yang memiliki otak sekecil bangsat (kutu) sampai tidak memliki logika untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab? Silahkan berikan opinimu sendiri. Selamat Hari Ayah!
Malam itu Kota Batu sangat ramai, sudah bukan pemandangan yang langka dimana setiap malam minggu batu selalu dibanjiri pengunjung. Cuaca yang dingin membuatku harus menggunakan jaket tebal dan malam itu aku bersama teman-temanku datang ke salah satu tempat yang pasti dikunjungi oleh semua wisatawan untuk sekedar duduk bersantai sambil menikmati ketan dengan aneka rasa. Tapi sebentar, ada salah satu pemandangan yang tak biasa kala itu, aku melihat sebuah panggung ditengah jalan ditambah kerumunan orang yang melingkar seperti ada sesuatu yang menarik. Sinar lampu blitz kamera pun menjadi pemandangan yang tak lumrah di kerumunan itu. Aku berusaha mendekat dan mencari tahu apa yang sedang terjadi, ketika aku memasuki kerumunan tersebut ternyata ada salah satu calon presiden yang sedang berkampanye dan menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu warung ketan yang sangat terkenal di batu malam itu. Dan aku juga berada di warung yang sama.

Kejadian itu tidak membuat aku dan teman-temanku diam dan cuek dengan apa yang terjadi temanku langsung mengambil kamera SLR yang dibawanya untuk sekedar mengabadikan momen bersama calon presiden tersebut, maklum sangat jarang seorang calon presiden bisa datang dan berada dikerumunan masyarakat seperti kami tanpa pengawalan yang ketat. Dan temanku berhasil mendapatkan foto tersebut.

 ***

Hari ini tanggal 20 oktober tahun 2014. Sudah saatnya pelantikan tersebut terjadi dan dihari ini Indonesia punya presiden baru. Aku rasa mulai keesokan harinya banyak sekolah-sekolah dan instansi-instansi yang mulai berusaha berburu foto presiden dan wakil presiden baru di negeri ini. Sebuah harapan baru jelas berada dipundak presiden baru, maklum baru sekali ini Indonesia punya presiden dengan latar belakang yang agak berbeda dari presiden lainnya. Jika sebelum-sebelumnya presiden indonesia berasal dari TNI atau keluarga-keluarga ningrat lainnya kali ini presiden indonesia berasal dari masyarakat sipil yang pernah merasakan kerasnya kehidupan bantaran kali. Well, nasib dan takdir manusia memang tidak ada yang tahu, tapi percayalah harapan akan tetap ada. Maka jangan berhenti bermimpi!


Selamat bekerja presidenku!
Secangkir kopi susu hangat menemaniku malam itu. Secangkir kopi, sebuah kenikmatan yang sudah lama kurindukan, maklum penyakitku ini membuat lambungku tidak toleran terhadap minuman berkafein seperti kopi, tapi untuk malam itu aku melawan, aku tidak mau dikalahkan oleh penyakit.

Malam semakin gelap, bulan semakin menyala dan terlihat bulat sekali malam itu dan aku masih memikirkan hal, atau mungkin lebih tepat disebut seseorang, yang sama malam itu. Memandangi bulan adalah salah satu caraku untuk berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta sambil mengagumi keindahannya yang paling sederhana yaitu langit malam yang cerah. Bulan seakan ingin mengajakku untuk datang kesana dan menyapa seseorang yang aku rindukan meskipun hanya melambaikan tangan sambil berkata “hai” kepadanya. Ah suasana yang begitu syahdu malam itu, aku bahkan tidak ingin cepat-cepat beranjak malam itu, aku ingin lebih lama bisa merasakan menyapa seseorang yang aku rindukan. Tapi apa daya, tubuhku tidaklah sekuat Silvester Stallone, angin malam bahkan bisa membuatku sakit hingga berhari-hari lamanya.

Berbaring di ranjang bukan berarti aku berhenti memikirkan hal tersebut. Aku masih tertuju pada langit-langit kamarku, yang kebetulan tersedia kaca untuk memandangi langit malam, merindukan seseorang yang sudah lama menemaniku. Aku tahu merindu bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh setiap pasangan, tapi tanpa merindu aku seperti tidak merasakan sensasi dari sebuah cinta. Malam itu rinduku sudah luar biasa memuncak, aku hanya bisa berdoa untuk sebuah kebaikan.

Aku tidak pernah mengerti kenapa aku suka merasakan hal ini. Buatku merindu adalah suatu yang candu sangat menarik. Aku bisa mengatakan menarik karena aku merasa hidupku sangat datar jika tidak merindu dan malam itu aku berhasil merindu. Aku mengerti kenapa elektrokardiogram yang menunjukkan garis datar mengartikan kalau si pasien sudah tiada, karena menurutku itu sama dengan kehidupan. Ketika aku merasa kehidupanku datar maka aku merasa sudah tiada, namun ketika aku merasa kehidupanku mulai naik turun disaat itulah aku merasa hidup. Merindu membuatku merasa hidup.


Merindu, aku seakan tidak bisa berhenti merindu. Aku bahkan tidak ingin menghindari merindu, karena aku tahu setelah aku merindu sebuah pertemuan akan terasa lebih bermakna dan berharga. Merindu, ah aku suka merindu.
Jujur aja ketika gue sekolah SD dulu gue sering banget yang namanya males masuk sekolah. Wajar aja sebab ketika umur gue masih 8 tahun, gue diharuskan buat bangun jam setengah 5 pagi dan pulang sekolah jam 3 sore setiap harinya karena sekolah gue yang jauh jaraknya dari rumah dan punya jam belajar yang lama. Yang ada dipikiran gue saat itu adalah "enak ya temen-temen gue bisa berangkat siang pulang sore setiap harinya".

Lalu kemudian gue beranjak dewasa dan mulai paham tentang kualitas suatu pendidikan. Gue juga mulai paham kenapa orang tua gue rela ngeliat anaknya harus bangun subuh dan pulang ba'da ashar demi mendapatkan kualitas pendidikan yang terbaik. Sekarang gue berfikir "Alhamdulillah, untung dulu orang tua gue nyekolahin gue ditempat terbaik sampe gue bisa jadi kayak begini sekarang".

Apa yang mau gue ceritain disini bukan semata-mata tentang kualitas pendidikan, tapi tentang bagaimana semangat seseorang dalam mendapatkan pendidikan. Kira-kira sekitar sebulan yang lalu, gue lagi dikejar deadline tugas gila-gilaan yang mengharuskan gue buat ngeprint tugas ditempat baru yang bukan langganan gue (karena printer gue rusak, waktu itu udah tengah malem dan tempat langganan gue udah tutup). Gue bersyukur bisa nemuin tempat yang relatif deket dari kontrakan gue dan masih buka waktu itu. Ketika gue masukin flesdis ke komputer di tempat itu, seketika mood gue ancur berantakan. Ternyata komputer itu penuh virus dan semua data gue kena virus. Alhamdulillah gue bisa tetep ngeprint dengan adanya virus-virus di flesdis gue biarpun tetep ada perasaan dongkol karena gue mesti scan flesdis gue lagi dan ada kemungkinan data-data penting di flesdis itu bakal lenyap.

Singkat cerita setelah gue berhasil ngeprint ditempat tersebut gue memutuskan buat service printer gue yang rusak karena gue gakmau kejadian virus itu keulang lagi. Gue mesti rela uang 300 ribu keluar demi kelancaran tugas-tugas gue dan gak perlu kena virus di tempat itu lagi.

Tapi kayaknya takdir mengharuskan gue ketempat itu lagi, tapi beruntung kali ini gue gak ngeprint tapi ngejilid makalah ke tempat itu. Disaat gue nyerahin makalah gue buat dijilid gue liat ada seorang bapak yang umurnya sekitar 30an lagi ngeprint di tempat itu. Pas gue liat dia ngeprint gue pengen banget ngingetin kalo ada virus di komputernya tapi semua udah terlambat ketika dia udah nyolokin flesdisnya dan ngeprint datanya. Ketika gue liat data yang dia print, ternyata dia ngeprint makalah juga kayak gue dan dia ternyata masih S1 di salah satu universitas swasta deket kontrakan gue. Dan seketika gue pun termenung.

Sosok bapak itu bener-bener ngingetin gue sama bokap gue yang gak pernah nyerah buat ngejar gelar sampe baru wisuda sarjana ketika gue udah SMA dan sebentar lagi mau kuliah. Bokap gue bukan orang yang males, kuliahnya terhambat karena dia sebelumnya cuma lulusan diploma lalu memutuskan buat fokus ke kerjaannya sampe akhirnya dia mutusin buat ngelanjutin kuliah dan baru lulus sarjana diumur yang memasuki kepala 4. Buat gue itu lebih keren daripada kuliah dengan predikat lulusan termuda atau bahkan tercepat yakni 3,5 tahun diusia yang masih muda.

Kejadian itu bener-bener buat gue nyesel sama apa yang udah gue lakuin selama ini dimana gue pernah ngeluh tentang sekolah gue yang jaraknya jauh, males ngerjain tugas dari dosen dan lain sebagainya. Sementara bokap gue dengan umurnya yang udah kepala 4 berani nerusin pendidikannya demi gelar yang dia idam-idamkan atau contoh bapak-bapak tadi yang rela flesdisnya kena virus demi ngeprint makalah yang seharusnya diumurnya itu dia udah sibuk ngurusin anak-anaknya. Bener-bener pelajaran berharga yang berawal dari virus komputer.
Kali ini gue mau bahas soal rokok nih, pembahasan yang menurut gue penuh pro kontra dan kalau dibahas dalam debat mungkin gak bakalan selesai tiga kali puasa tiga kali lebaran. Gue sendiri ngerokok semenjak kuliah ya biarpun belakangan lagi berusaha berenti dan mulai sadar efek dari rokok di badan gue. Gue sendiri heran kenapa rokok harus dijadikan kambing hitam dari semua permasalahan. Misal, kalo ada pasangan yang si cewek gak suka rokok dan ternyata baru tau kalo si cowok ngerokok gue jamin pasti si cewek bakal ngambek tujuh turunan atau bisa jadi diputusin cuma gara-gara rokok. Atau contoh sebaliknya misalkan ada cewek ngerokok, pasti kebanyakan orang menjudge negatif cewek itu. Gue bingung, sebenernya apa sih salahnya rokok? Dia kan cuma lintingan rempah-rempah kering yang dibakar terus dihisap (biarpun hasil penelitian menunjukkan kalau rokok itu beracun).

Di Indonesia sendiri tingkat perokok udah banyak banget, bahkan kalo misalkan disurvei buat ngebandingin lebih banyak mana cowok perokok aktif sama perokok pasif pasti kebanyakan perokok aktif. Dan lebih mirisnya lagi, banyak perokok masih dari kalangan dibawah umur yang seharusnya mereka masih ngemutin permen atau bahkan nete sama emaknya tiap pulang sekolah. Jadi siapa yang salah? Orang tua kah? Atau pemerintah yang membebaskan penjualan rokok di Indonesia? Kalau mau ditentukan siapa yang salah menurut gue semua pihak salah termasuk si anak yang merokok itu. Terlalu naif kalau kita menyalahkan orang tua dan pemerintah tanpa menyalahkan si pelaku itu sendiri.

Oke stop pembahasan bocah-bocah yang ngerokok, gue sendiri bukan tipe orang yang mengkambing hitamkan rokok dan menganggap rokok sebagai sesuatu yang sepenuhnya dosa dan haram (selama belum adanya fatwa dari MUI). Menurut gue selain punya dampak negatif, rokok juga punya dampak positif. Gak percaya? Oke gue bakal jabarin kenapa menurut gue rokok punya dampak positif.

Pertama, rokok menghidupi ratusan ribu bahkan jutaan buruh. Udah gakbisa dibantah lagi kalau industri rokok di Indonesia ini udah jadi Industri besar. Banyak tenaga kerja yang diserap dari industri yang satu ini dan kalau pada akhirnya rokok di musnahkan secara perlahan mau dikemanakan ratusan ribu bahkan jutaan buruh tersebut?

Kedua, rokok merupakan salah satu industri penyumbang pajak terbesar. Selain tambang, industri rokok juga dikenakan pajak yang sangat tinggi maka dari itu pemerintah masih belum berani mengambil langkah pasti buat menghapuskan atau mengharamkan rokok di Indonesia.

Ketiga, rokok bisa menjadi ciri khas negara Indonesia. Kenapa gue bilang ciri khas? Karena sebagian orang diluar negeri udah mengakui kalo rokok di Indonesia (khususnya kretek) itu punya cita rasa yang tinggi dibandingkan rokok yang mereka buat. Coba bayangkan kalo industri rokok lebih dikembangkan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa ngalahin popularitas Brazil yang terkenal dengan industri kopinya.

Keempat, banyak petani tembakau yang bergantung pada industri rokok. Kalau ini gue bahas dari sektor pertaniannya. Petani tembakau itu bergantung banget sama industri rokok, karena industri rokoklah mereka memilih jadi petani tembakau ketimbang yang lainnya. Bayangkan bagaimana nasib para petani kalau industri rokok dimatikan?

Oke cukup penjelasan dampak positifnya. Gue sendiri agak prihatin ngeliat industri rokok belakangan ini. Kalo lo baca berita mungkin lo tau kabar kalo salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia menutup beberapa pabrik rokoknya (khususnya kretek). Gue ngerasa pemerintah seakan-akan berusaha mematikan industri yang menghidupi banyak orang ini secara perlahan. Bahkan di Bandung sendiri akan dibuat peraturan dilarangnya iklan rokok dikota tersebut. Well, gue tau rokok itu gak baik buat kesehatan, tapi kalo industri rokok mati bukannya menambah pengangguran dan meningkatkan kejahatan ya? Dilema besar memang. Menurut gue daripada perlahan mematikan industri rokok, pemerintah sebaiknya lebih merubah pola pikir masyarakat tentang rokok dan lebih menjelaskan kepada masyarakat apa aja dampak dari rokok. Mengubah pola pikir gue rasa lebih baik ketimbang mematikan industri rokoknya.

Tujuan gue ngejelasin itu semua BUKAN berarti menganjurkan semua orang untuk merokok. Menurut gue pilihan untuk merokok itu ada di tangan kalian semua, di belakang bungkus rokok udah ditulis kok apa-apa yang bisa terjadi kalau kita merokok. Jadi, jangan lagi kita kambing hitamkan rokok. Selamat Hari Bebas Tembakau Sedunia!
Semua orang yang punya pasangan pasti selalu berharap kalau pasangannya selalu ada didekatnya, bahkan kalo bisa selalu nempel disebelahnya sampe gak bisa dilepasin. Dan ketika pasangan tersebut harus menjalani LDR karena satu atau lain halnya pasti mereka bakal ngerasa sedih atau bahkan yg lebih ekstrim berantem lalu kemudian putus karena gak berani buat ngambil keputusan LDR.

Gue juga pernah ngerasain hal itu. Disaat dulu gue punya pasangan yang awalnya satu kelas pas SMA lalu tahun berikutnya beda kelas, itupun udah berasa kayak LDR, biarpun jarak kelas gue dan dia cuma beberapa meter. Tapi belom berenti sampe situ, disaat kita lulus dan lanjut buat kuliah LDR yang sesungguhnya baru terjadi dan jaraknya lumayan jauh juga dari Timur pulau Jawa dan Barat Pulau Jawa. And guess what happened? Hubungan itu akhirnya gagal. Mungkin kalau ada penelitian dari 100 pasangan yang menjalani LDR 98 pasangan tersebut gagal dan sisanya berhasil, salah satu pasangan yang gagal tersebut adalah gue. Makanya kebanyakan pasangan menganggap LDR itu seperti mimpi buruk disaat kita mimpi buruk sambil mimpi basah.

Tapi selama gue menjalani LDR ada beberapa hikmah yang gue dapet, bahkan melebih hikmah kultum penuh iklan sebelum adzan maghrib bulan puasa. Meskipun gue gagal dalam LDR tapi selalu ada pelajaran yang bisa gue dapet tentang bagaimana rasanya LDR, lalu bagaimana memepertahankan LDR, dsb. Berikut ini beberapa hikmah yang gue dapet selama gue ngejalanin LDR dulu.

Pertama, disaat kita LDR maka sifat asli pasangan kita akan terlihat. Ini yang bener-bener gue rasain dulu. Disaat kita sering ketemuan atau bahkan ketemuan setiap hari mungkin pasangan kita akan berusaha menunjukkan sifat terbaik mereka ke pasangannya, atau bahkan bohong terhadap karakter aslinya sendiri demi menunjukkan ke pasangannya kalau dia yang terbaik. Well, gue gakmau nyalahin orang yang kayak gini, toh tujuannya emang positif yaitu berusaha menjadi yang terbaik buat pasangannya meskipun dia gak menjadi dirinya sendiri. Tapi, disaat menjalani LDR pasti bakal kerasa sifat asli dari pasangan kita, keburukan yang selama ini ditutupi oleh kebaikan pasti bakal kebuka pelan-pelan atau bisa jadi kebaikan yang tertutup oleh keburukan juga bisa kebuka pelan-pelan.

Kedua, disaat kita LDR maka kesabaran pasangan kita bakal diuji. Ini juga bakal terlihat kalau misalkan pasangan kita bukan orang yang sabar buat nunggu ketemu sama pasangannya mungkin doi bakalan ngeluarin 1001 alasan buat yang namanya mutusin pasangannya. Bahkan ada yang lebih ekstrim yaitu nikung pasangannya yang nun jauh disana dengan dalih, dia temen aku dia emang pernah bilang suka aku tapi aku nanggepinnya biasa-biasa aja. Dengan LDR maka kesabaran pasangan lo bakal terlihat apakah dia orang yang sabar atau orang yang pura-pura sabar lalu mencari orang lain buat ngelupain orang yang nun jauh disana.

Ketiga, disaat kita LDR maka kondisi keuangan pasangan kita bakal terlihat. Ini mungkin agak berbau matrealistis ya tapi kenyataannya begini. Kadang disaat pasangan itu deket-deketan mereka akan tertutup dengan kondisi keuangannya dan biasanya bilang "tenang aku ada uang kok hari ini nanti biar aku yang traktir nonton, makan, minum, parkir, ke kamar mandi, beli shampoo, beli underwear, beli lipstik, dll.". Tapi disaat LDR semua bakal berubah, orang yang biasanya bilang begitu bisa jadi bilang "maaf ya sayang aku lagi gak ada pulsa besok aku telpon pake telpon umum di deket stasiun ya". Iya, disaat LDR pasangan yang merantau biasanya akan terbebani biaya hidupnya buat makan, bayar kos, ngerjain tugas, ngegaul sama temen-temennya, dll sampe akhirnya terlihat bokek didepan pasangannya.

Keempat, disaat kita LDR maka disaat ketemuan bakalan terlihat siapa yang bisa nahan nafsu siapa yang gak tahan godaan. Gak usah munafik lah disaat kita gak ngejalanin LDR kita bisa tiap hari mesra-mesraan sama pasangan kita  dan bisa gak kenal waktu bahkan sampe 3 X sehari sebelum dan setelah makan. Tapi disaat LDR pasangan yang biasanya selalu ada disaat kita butuh pelukan bakalan digantikan oleh guling buluk kosan yang sarungnya gak diganti tiga kali puasa tiga kali lebaran dan rasa kangen itu bakalan muncak sampe kita kalap. Dan disaat ketemuan biasanya rasa kangen yang gak tertahan itu bakal diekspresikan sepuas mungkin dan terlihat siapa yang bisa menahan nafsunya siapa yang gak kuat sampe kebablasan.

Kelima, disaat kita LDR maka bakal keliatan siapa yang bener-bener setia. Nah ini poin paling penting dari semua hikmah yang ada. Disaat kita gak ngejalanin LDR mungkin pasangan kita bisa selalu ada buat ngegombal kalau dia paling setia dan gak bakalan pindah ke lain hati. Tapi disaat LDR godaannya bakalan makin besar. Si doi bisa aja kepincut orang lain yang ada dideket dia dan bisa ketemu setiap hari. Dan disaat LDR bakal keliatan siapa yang bener-bener setia siapa yang pura-pura setia dan tiba-tiba punya pacar baru dengan singkatnya.

Mungkin segitu yang bisa gue ceritain tentang hikmah dari LDR yang pernah gue jalanin. Jadi buat mahasiswa baru yang takut buat ngejalanin LDR, silahkan berfikir dua kali. Gak selamanya LDR itu buruk selalu ada hikmahnya dari sebuah LDR. Dan, selamat bergalau ria!